Sabtu, 2009 Januari 24

Perjalanan Menuju Cahaya


“Nanti, bila tiba waktunya, pandanglah langit saat malam tercerah… Kau akan temukan satu cahaya, yang paling berkilau diantara cahaya yang lain… Mungkin itu adalah cahaya milikmu, arah perjalananmu… “

Ucapan Opa Mora inilah yang kemudian mengantar Duara Dethan melakukan perjalanan panjang untuk membuktikan semua cerita Opa Mora, yang selama ini hanya dianggapnya dongeng masa kecilnya…
Awalnya ia menuju Kofa, tanah yang dulu pernah menjadi tanah terindah diantara tanah tergersang. Lalu ia menuju Lamalera untuk mengunjungi seorang lama fa, atau pemburu paus, yang memiliki kemampuan mengundang paus dengan suaranya. Ia juga menuju Teluk Bapuara mencari manusia ikan diantara bangkai kapal karam peninggalan Portugis. Kemudian berlanjut ke So'e, tanah para tiku, perampok berkuda, tempat Opa Mora memendam cinta yang tak pernah diketahui sebelumnya. Lalu ke Manufui, tempat sirkus Para Hantu melakukan pertunjukan, dan juga tempat pertemuannya dengan sosok istimewa Kanna Edo. Dan terakhir, ia mengunjungi Atambua, dimana terdapat pohon yang konon pada masa dulu, dapat mengabulkan hujan…
Semuanya merupakan perjalanan yang begitu mirip dengan perjalanan yang dilakukan Opa Mora hampir 40 tahun yang lalu. Sungguh, awalnya Duara Dethan tak terlalu berharap banyak membuktikan semua perjalanan itu, namun yang terjadi adalah sebuah petualangan panjang yang tak pernah dibayangkan sebelumnya…
*****
Ini merupakan buku ke 21 saya. Buku yang saya pikir bakal jadi buku saya yang paling istimewa. karena saya menulis ini memang sengaja untuk mengenang tempat dimana saya remaja, Kupang, NTT. Novel ini juga merupakan novel pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Inspirasi Penerbit ANDI Jogjakarta
*****

Kisah yang tidak hanya mengantar kita menuju cahaya,
melainkan juga pada pengembaraan yang menakjubkan…
Sanie B. Kuncoro, penulis novel Kekasih Gelap

Jumat, 2008 Desember 19

Kuch Kuch Lebai Hai

“Dari mata seekor garuda, Indonesia punya air yang cukup, sungai kaya ikan, langit penuh dengan hujan, namun kini petani tak mampu mengairi ladangnya, keluarga tak mampu membeli air bersih untuk diminum, dan orang-orang tak bisa lagi tersenyum karena beban hidup mereka. Saya Yudhi H. menyampaikan pesan penting untuk Indonesia, rakyat haus suatu gerakan yang membantu orang-orang agar dapat meninggalkan beban hidup mereka, dan kembali tersenyum secara lepas…
Saya Yudhi H. bergabunglah bersama saya di Gerakan Indonesia Jayus… Gerinyuss… “

*****
Mas eksibisionis
Dari kost saya itu, jalan tembus ke kampus tak lebih dari 200 meter.
Disana, sebelum memasuki wilayah kampus, ada sebuah rumah besar yang disampingnya membelah sebuah gang kecil. Disitu ada sepetak kebon yang ditanami beberapa pohon pisang, dan rumput liar. Disinilah cerita ini berlangsung…
Konon disitulah, sudah lama tersiar kabar tentang seseorang eksibisionis. Teman-teman cewe saya yang kerap melewati jalan itu, beberapa kali terjebak disitu. Eksibisionis itu dengan pede (yaiyalah pede, masa malu-malu?), menunjukkan anunya ke depan cewe-cewe yang kebetulan lewat disitu…
“Ih, ngeri,“ seorang teman cewek saya bergidik.
“Aku bener-bener takuuuut,” tambah yang lain.
“Kenapa sih?” saya nimbrung, “Emang sebesar apa, bisa sampe bikin takut?”
Saya pun langsung ditendang keluar dari arena.

Saya jadi inget kejadian saat teman saya membuka toko di jalan Ciptowiloho - Jogja yang terkenal sepi. Disitu pegawainya pernah didatangi seorang eksibisionis. Biasanya ia datang dengan motor. Lalu turun tanpa mematikan motor. Buka celana… lalu : tang itung itang itung… oouh, ooouh….
Pegawai teman saya itu, sampai menangis karena ketakutan. Sialnya kejadian begitu terulang hingga 3 kali lebih. Sampai dilaporkan pada RT setempat segala. Kacian banget…
Sebenarnya menghadapi eksibisionis cukup mudah. Seorang teman saya yang mengaku pakar menghadapi eksibisionis memberikan tips ; “Eksibisionis itu makin seneng ketika kamu ketakutan. Makanya ketika ia mulai ber-naked ria, kamu cuek aja, melengos dan tidak menanggapi. Tindakan seperti ini bakal bikin si eksibisionis merasa ilfill…”
Tapi pada kenyataannya tips begini mana ampuh. Walau sudah disiapkan batu buat nimpuk, kayu buat nggebuk dan karet gelang buat njepret, biasanya korban seakan lupa semua. Mana ada sih orang ketakutan, bisa berpikir logis?

Kembali ke cerita tentang eksibisionis di deket kampus saya, sejak beberapa teman cewe saya jadi korban, saya sebagai cowo gentle, kadang sengaja menunggu teman-teman saya itu untuk melewati kebon itu. Sampai lama gak pernah ada eksibisionis yang nongol lagi. Nampaknya ia takut dengan keberadaan saya. Cuma suatu hari, kami dikagetkan juga dengan kemunculan eksibisionis yang lain. Kali ini lebih nekad. Naked seluruhnya, menampilkan seluruh tubuhnya yang putih. Saya langsung mengambil bambu di dekat saya. Dengan wajah yang saya garang-garangin saya maju ke depan siap menggebuk. Eksibisionis itu kontan langsung lari tunggang-langgang, sambil teriak-teriak, “mbeeek… mbeeeek….”
Maka sampai beberapa tahun kemudian, misteri munculnya eksibisionis di kebon itu belum terpecahkan juga…

*****

YouTube, Success Story



akhirnya buku ini beredar. dengan memakai salah satu divisi penerbit Mizan, B First.

saya sebenernya sudah melihatnya sejak seminggu yang lalu. namun sampai hari ini ternyata saya belum menerima bukunya. ah, malangnya nasib saya. jadi saya terpaksa melihat2 di gramed dulu, sambil berharap sabtu besok buku itu datang, bersama buku kuch kuch lebai hai...

sebenarnya saya sudah berkeyakinan tak akan menulis buku komputer lagi. tapi saya pikir buku youtube bukanlah buku komputer, namun lebih sebagai buku entrepreneur. jadi saya oke saja.
saya menyelesaikan buku ini sehabis lebaran. kira2 butuh waktu sekitar 2 bulan. dan penggarapannya mudah, karena hanya mengandalkan internet saja. semoga buku kecil ini dapat bermanfaat...

untuk lebih jelasnya liat di : http://www.mizan.com/hikmah/index.php?fuseaction=buku_full&id=7469

Minggu, 2008 Oktober 05

Samurai Cahaya

cover design : mas yogi dari isthis comic


prolog
Hari-hari Panjang Penuh Tanda

Hari ini lahir dengan tak biasa! Sensei Kogawa Itsu, peramal paling ternama sejak masa Kamakura, memandang takjub ke arah langit. Matanya terbelalak dan tangannya yang sedang memegang kipas, bergetar. Istrinya yang menyaksikan itu, segera menghampirinya dengan tak mengerti. Ia ikut membuang pandangannya ke hamparan langit, seperti yang tengah dipandang suaminya. Dan ia segera ikut terbelalak. Mulutnya berucap ragu, “Kenapa… kenapa bisa begini?” Sensei Kogawa hanya menggeleng pelan, “Ini jelas sebuah pertanda…” ujarnya tanpa menoleh, “Ya, sebuah pertanda yang begitu jelas...” Kini di depan keduanya, terpampang sebuah lukisan yang tak biasa. Matahari yang baru terbit seakan membawa darah. Warna merah menyala menghiasi langit pagi ini, menepikan warna-warna yang biasa terlihat. Sungguh, pemandangan yang mengerikan. Tak hanya sampai disitu, ribuan kupu-kupu berwarna hitam juga bertaburan mengisi celah-celah kosong langit. Seakan langit telah menjadi milik mereka. Sensei Kogawa masih menatap tak percaya. Hampir sepanjang hidupnya ia menetap di sini, di tanah Gifu. Tak pernah ada alasan khusus mengapa ia memilih tanah ini. Walau sebenarnya ia bisa memilih tanah dimana pun. Ia bisa memilih Nara atau Kyoto, yang begitu maju peradabannya. Atau ia juga bisa memilih tempat-tempat sepi untuk kesempurnaan meditasinya. Tapi seperti sebuah magnet, ia memilih Gifu. Tanpa ia sendiri tahu alasannya secara pasti. Ia hanya tahu, langkah ini tak hanya terjadi padanya. Sepanjang yang ia tahu, banyak peramal-peramal besar berpijak disini. Entah apa alasan mereka. Ia hanya bisa sedikit merasakan kalau Gifu memang berbeda dari tanah-tanah yang sudah diinjak sebelumnya. Sepertinya disinilah, sebuah meditasi terdalam bisa dilakukan, sebuah getara paling halus bisa dirasakan dan sebuah penglihatan paling samar bisa terbaca. Entah apa yang sebenarnya ada pada Gifu. Seorang peramal lain pernah berujar, mungkin karena Gifu adalah titik tengah di pulau Honshu, sehingga semua energi yang ada di pulau itu memusat disini. Tapi Sensei Kogawa tak pernah merasa yakin alasan itu. Tapi hari ini sesuatu yang lain kembali terjadi. Ini yang kemudian membuatnya teringat pada Gijoru, seorang pemikir yang dipelajarinya ketika muda dulu… bila langit telah memerah dan kupu-kupu telah menari untukmu perhatikan itu sebagai sebuah tanda! Ya, inilah sebuah tanda, Sensei Kogawa merasa semakin yakin. Dulu, ketika ia masih sangat muda dan baru mempelajari ilmu tentang bintang, ia ingat di satu malam di tahun 1305, hujan turun dengan derasnya dan ratusan petir menyambar berkali-kali membentuk garis-garis putih disebujur langit dan menjadikan malam sebagai sebuah rajutan, waktu itulah hari dimana Ashikaga Takauji lahir. Ia bersama sensei-nya ketika itu, telah meramalkan saat itu, karena ia yakin, orang besar selalu lahir di hari yang tak biasa. Tak pernah ada yang membantah ini. Ia selalu bisa menghubungkan semua orang besar dengan hari kelahirannya yang tak biasa. Seperti saat hari terlahir dengan jutaan kumbang memenuhi udara. Entah kumbang dari mana, dan akan kemana. Mereka hanya terbang bergerombol, mengeluarkan suara melengking yang menyakitkan telinga dan terus bergerak berputar-putar tanpa arah. Namun di saat itulah Kitabatake Akiie lahir. Dan kini, hari yang tak biasa itu kembali lahir... Tanpa berucap apa-apa, Sensei Kogawa segera bergegas masuk ke ruang semedinya. Istrinya hanya bisa menatapnya tak mencoba menghalangi. Di dalam ruangan semedi, tanpa cahaya itu, ia mulai menenangkan pikirannya, mencoba berkosentrasi. Dicobanya melihat bayangan-bayangan yang muncul dalam semedinya. Tapi sampai lama, ia tak mendapatkan apapun. Ia pun akhirnya menyerah, dan membuka matanya saat langit telah gelap. Tak sepenuhnya gelap sebenarnya, namun warna merah masih terasa mendominasi… Langit hitam dengan semburat darah! Ia mengeluh dalam hati. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Ia mengeluh dalam hati. Tepat saat itulah, muncul empat bintang jatuh didepannya. Empat bintang yang muncul dari empat arah mata angin yang berbeda, meluncur dengan kecepatan luar biasa. menuju satu titik yang sama… Sensei Kogawa menahan napasnya, seakan keempat bintang jatuh itu akan saling bertabrakan… Ia kembali mencoba menyerahkan dirinya dari keheningan. Dan mulailah secara perlahan-lahan dan samar-samar, bayangan-bayangan melintas diangannya. Semula semuanya hanyalah bayangan tak jelas yang hanya sekelebatan mata. Namun perasaannya yang terlatih masih bisa menangkap bayangan-bayangan itu... Bayangan gelimpangan ribuan mayat… bayangan seorang samurai yang mengacungkan samurainya yang begitu memancarkan cahaya… bayangan duel dua samurai tanpa tanding… bayangan seorang anak kecil yang tengah memeluk seekor kelinci yang telah mati… Dan Sensei Kogawa terkesiap dengan napas terburu. Bayangan itu terus menggantung jelas diimajinasinya… Jauh… jauh dari tempat itu, di empat tempat yang berbeda, dari empat rahim yang berlainan, empat bayi merah lahir di dunia dengan tangisan yang sangat keras… Empat bayi inilah yang ditakdirkan lahir di hari itu… Dan dari hari inilah, cerita ini bermula…

*****


Akhirnya novel ini selesai. insyaallah kalau lancar bulan September besok sudah beredar di seluruh Indonesia. Novel ini merupakan novel dengan energi paling besar. Saya sangat lelah membuatnya. Sepertinya prosesnya sangat panjang. Ketebalannya konon dengan format standar bisa mencapai 300 halaman buku 13 x 20. Tapi agar harganya tidak terlalu mahal, buku ini diformat hanya 240 halaman. Fontnya kecil tapi masih cukup nyaman kog… Buku ini adalah jawaban dari semua keluhan pembaca Seven Samurai. Saya ingat komentar-komentar pembaca Seven Samurai, entah itu di email, friendster, blog, bahkan di sms. Hampir semuanya mengatakan kalau Seven Samurai terlalu tipis. Jadi buku ini jelas lebih tebal. Mungkin 2,5 kali lipat lebih. Ceritanya pun runtut, tidak melompat-lompat seperti Seven Samurai. Intinya buku lanjutan Seven Samurai ini merupakan karya saya paling menguras emosi. Seorang pembaca pernah berkomentar Seven Samurai membuatnya merinding, saya yakin buku ini akan membuat pembaca berkali-kali merinding. Saya catat ada 4 adegan memilukan. Ada juga 2 adegan heroik. Sungguh, novel ini sangat komplet. Karena saya juga menyisihkan sedikit gurauan di salah satu bagian. Sungguh, ini novel terbaik yang pernah saya tulis. Dan saya bangga bisa menyelesaikannya…

*****

Selasa, 2008 Agustus 19

2 buku proyek saya




Sekedar buku kecil...
Namun lepas dari itu ada satu pengalaman yang kupikir patut dibagi. Pengalaman menulis buku proyek...
Setelah hampir satu tahun kemudian... akhirnya buku proyek saya selesai juga.
Dulu setahun yang lalu itu, kami, beberapa penulis Solo, bekerja sama dengan Penerbit Sahabat, Klaten untuk menyetok 100 naskah buku fiksi dan nonfiksi untuk program pengadaan buku perpustakaan selutruh indonesia dari pusat.
Ternyata Penerbit Sahabat sama sekali bukan penerbit professional. Dari biaya yang sejak awal disepakati, terus turun dan turun. Dari semula 1 naskah dihargai 2 juta, kemudian jadi 1,5juta, kemudian perlembar dihitung Rp. 15.000, sampai terakhir Rp. 10.000 perlembar. Tentu saja ini bikin penulis-penulis malas. Belum lagi uang yang tak banyak ini dibayar sangat lama. Bahkan sebagian teman sampai sekarang belum dilunasi seluruhnya
Kami semakin tak semangat. Apalagi teman-teman penulis lain yang ikut program seperti ini dengan penerbit lain, cukup dihargai. Penerbit Setiaji dan Penerbit Mediatama bahkan menghargai perlembar naskah Rp. 20.000 – Rp. 25.000. Bayangkan, betapa jauhnya dari harga yang ditawarkan Penerbit Sahabat.
Naskah saya sendiri sudah dibayar lunas. Saya hanya menulis 2 naskah, dari 5 naskah yang harusnya saya selesaikan. Yang pertama Alice dan Alam Semesta, yang kedua Dongeng Dunia.
Penerbit Sahabat semakin terlihat tidak professional ketika buku saya dicetak dengan nama lain, nama seorang teman saya. Sungguh ini lucu, buat penerbit sebesar Sahabat!

Mungkin ini pengalaman menulis buku proyek yang terakhir buat saya. Dan bisa menjadi pelajaran bagi teman-teman penulis lainnya, agar hati-hati terhadap proyek penulisan buku seperti ini, terutama bila yang menawari Penerbit Sahabat! Hehe...

Minggu, 2008 Agustus 17

Menuju Rumah Cinta-Mu diterbitkan di Malaysia






Agak kaget juga waktu gak sengaja saya menemukan sebuah blog yang membahas buku ini. Awalnya saya kira blog-blog dari Indonesia, ternyata dari Malaysia. Walau gak terlalu bisa saya mengerti, saya cukup mudeng maksudnya.


Ternyata buku ini sudah beredar di Malaysia. Sekitar bulan Mei lalu, memang dari penerbit Bentang yang menerbitkan buku ini pertama kali, sudah memberitahukan rencana sebuah penerbit Malaysia yang membeli hak cipta buku saya ini. Surat perjanjiannya pun sudah saya terima. Walau terus terang saya gak terlalu mudeng maksudnya.


Hanya intinya yang saya tangkap, buku ini akan beredar di 4 negara yaitu : Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura dan Thailand, dan saya mendapatkan 50% dari royalty yang diberikan penerbit Malaysia itu pada penerbit Bentang. Itu saja.


Buku ini entah mengapa, begitu… berprestasi, sori saya belum menemukan padanan katanya. Padahal buku ini bukan tulisan terbaik saya. Bukan juga tulisan yang sangat saya suka. Hanya sebuah karya yang sangat biasa. Mungkin karena kemasannya yang sangat bagus, buku ini jadi sangat bunyi. Sungguh, dari 16 buku yang sudah saya tulis, ini memang buku saya dengan cover terbaik…


Sebelum diterbitkan di Malaysia, penerbit juga meminta buku ini untuk dijadikan phonebook, buku yang diedarkan melalui ponsel.


Sungguh, buku in seperti menjadi berkah tersendiri buat saya. saja jadi ingat prosesnya yang paling lama sebelum akhirnya menjadi buku…


ah, semuanya memang ada jalannya sendiri ya…



*****

Jumat, 2008 Agustus 01

asoi geboi bohai


ini cerita jayus mahasiswa gokil

sumpah mateng, ini buku paling konyol yang pernah saya tulis...

isinya sebenernya cuma cerita-cerita ringan saya semasa ngekos di eLtorros. nggak njelimet dan enteeeeeng aja. selain itu, saya juga bikinnya super cepet. bukan karena saya penulis yang hebat sehingga bisa nulis cepet, tapi lebih karena... bernostalgia itu asyiiiik.

Jadi saat prosesnya saya enjoy banget. kadang di sela-sela ngetik saya ngakak sendiri. saya juga kerap menerawang (oooh) saya jadi inget temen2 saya itu sekarang gimana ya kabarnya...


uhuk... jadi kangen...


cuma prosesnya yang singkat sempet belibet juga. awalnya buku ini berjudul KHOST STORY, lalu diganti CHOROPHOBIA, terakhir ini deh ASOI GEBOI BOHAI...

trus sempet ada cerita yang disensor karena terlalu gimana getooo.


ya akhirnya, lumayanlah, semoga bisa diterima rakyat indonesia...


Rencananya tanggal 9 agustus ini akan di launching di acara PESTA BUKU MURAH SOLO 2008. doain semoga lancar ya....


*****


Buat bonus saya kasih satu cerita yang ada di buku ini ya... judulnya... terreeeeng...


Hantu Hijrah
Ini mungkin kisah paling horror yang pernah terjadi di kost saya. Walau mungkin terdengar fiktif, tapi ini jelas fakta. Saksi mata sampai sekarang semuanya masih hidup, dan bisa ditanyai secara langsung.
Kisahnya berawal dari… mulai dihuninya kost baru di depan kost kami. Nama kost itu : Al Huswah, milik seorang pengusaha dari Jakarta. Bangunannya cukup megah, terdiri dari 2 lantai, dan bercat putih mulus. Sebenarnya sudah sejak lama bangunan itu jadi. Mungkin hampir setahun yang lalu. Namun entah mengapa kost itu belum dipasarkan juga.
Ketika akhirnya kost itu dihuni, kost saya adalah yang terkena dampaknya paling buruk. Konon, menurut teman saya yang bisa melihat, hantu-hantu yang awalnya anteng di kost Al Huswah, semuanya kebingungan. Mereka shock karena tempat yang sebelumnya sepi dan gelap, tiba-tiba penuh berisi cewek-cewek bawel yang hobi ngegosip. Mereka pun kemudian memutuskan untuk pindah. Dan nasib ternyata menuntun mereka ke kost kami. Entah apa alasan mereka memilih kesini, tak ada yang berani bertanya. Namun saya menyimpulkan, mungkin karena kost saya dianggap paling ideal : tak terawat, dan banyak temannya yang sejenis… hehe!
Sejak itulah dimulai kejadian horor di tempat saya!
Joko Sumur yang awalnya mengalami terror mengerikan ini. Ia merasa aneh karena posisi tidurnya selalu berubah. Saat ia tidur dilantainya yang berkarpet, ketika bangun dia sudah ada dikasurnya. Dan saat ia tidur dengan posisi kepala di timur, ketika bangun posisi kepalanya sudah ada di barat.
Waktu ia bercerita soal ini, kami hanya menganggapnya angina. Ajex malah menyeletuk, "Gitu aja kog bingung? Nanti kalo bangun udah ada di WC baru panik…"
Namun kejadian terus berlanjut. Mas Ino ketika bangun di pagi buta, hendak shubuhan, konon melihat beberapa tuyul sedang bermain di gerbang depan. Namun ia tak terlalu peduli, karena menyangka itu anak-anak kampung yang sedang lewat. Namun kegundulan ketiga anak itu membuatnya heran juga.
Cerita makin bertambah horros, ketika Fuad merasa ada yang memanggil-manggilnya di setiap tengah malam. Panggilannya begini; "Maaaas… mas…mas…"
Hiiii….
Cerita-cerita di atas sama sekali tanpa direkayasa. Karena sejak itu, Yoyok, salah satu teman saya yang agamanya paling mumpuni, dan seorang NU sejati, tiba-tiba semakin sering menyuruh teman-temannya untuk memperbanyak sholat malam…
Dari bisik-bisiknya, saya pancing Yoyok untuk menceritakan apa yang terjadi di kost ini. Maka setelah menarik napas panjang, sepertinya orang-orang yang mau mengatakan hal-hal berat, ia pun segera bercerita, "Di depan kamar Mas Joko ada Gondoruwo, Mas. Di dekat gerbang ada 3 tuyul. Trus terakhir di depan kamar Mas Fuad ada Siluman…"
Dan… gegerlah kost kami. Ini langsung jadi puncak ketakutan kami. Bagian kost sebelah timur seperti bener-bener terteror. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, beberapa anak di kubu itu membentuk merger untuk bobo bersama. Lampu-lampu koridor yang semula hanya 5 watt pun, diganti dengan 30 watt. Hingga keadaannya jadi terang benderang, seperti pasar malam. Gudang yang semula kosong pun segera dibersihkan. Barang-barang yang tak terpakai semua dibuang.
Anehnya, bagian kost sebelah barat, tempat saya, Toni dan Nyat berada, sama sekali tak pernah diganggu. Kami bersikap biasa saja. Normal. Saat teman-teman di kubu timur ketakutan seperti itu, kami hanya bisa memandang heran.
Melihat keadaan ini, beberapa teman dari kubu timur sempat menyeletuk, "Abis kalian kurang kuat agamanya, jadi gak bisa melihat???"
Loh apa hubungannya? Korelasi kuat sama hantu kan berbeda? Kalo kuat berarti menyangkut tenaga, kalo hantu ya itu tadi, menyangkut dunia lain. Jadi analisa ini bisa segera dikesampingkan!
Namun yang pasti, setelah melaporkan pada mbak pemilik kost, akhirnya kami sepakat memanggil orang pintar untuk memindah para hantu itu. Dengan ritual-ritual khas, hantu-hantu itu akhirnya dapat dengan sukses diusir tanpa perlawanan.
Namun kisah hantu hijrah ini tak selesai sampai disini. Geger kost ternyata berpindah ke kost sebelah. Nah loh. Konon hantu-hantu kali ini lebih jahil. Gak sekedar mindahin orang tidur, atau memanggil-manggil mas… mas…, mereka juga mulai mencuri-curi… celdam beberapa teman saya.
Hantu pecinta celdam?
Heheh! Kalau yang ini saya tak terlalu yakin kalau dilakukan jin!


*****