Senin, 06 Juni 2011

Spring of Kumari Tears, short stories compilation


indonesian editor | bandung mawardi
cover design | hikozza
ilustration | bukukatta
translated | Rini Nurul Badariah & Nita Candra

limited edition! Rp, 50.000 (free delivery in Indonesia/bebas ongkos kirim di Indonesia)

Down there, some people wanted to seek your spring. Probably water in the lower course wasn’t satisfying, or they wanted the clearest pure water. After few days, they found our dry land easily.
That moment, you were sitting near the lake, shocked to see them. The leader of those people stepped forward, yelled, “So you are here, slut!” The other man saw the tears dripping to the lake and whispered, “Look. The river we seek is coming from her tears!”
Those people looked at each other, angrily.
“What? So along this time we have drank this slut’s tears?” he spat. Hurriedly, they all surrounded the woman. “We should have killed you that day!” said one man.
You stepped back, frightened. “I didn’t do anything wrong!” You cried and fell down.
They spat again.
“I loved him!” you said, crawling back. “And you… you killed him!”
“He deserved to die! He disgraced our Kumari!”
There was sound of laughter, and in a second a lance had stabbed in your throat!

*****

This short story compilation presented authors’ faith to play along and breathe the tales, again in ‘esthetical transaction’ with readers. It is not only words combination on papers. Spring of Kumari Tears challenged locality imaginative pilgrimage and human internal search through various events. Fluency in geographical setting was evidence of author’s traveling among cultures. Author’s faith guided readers to live in his stories.

- Bandung Mawardi

Rabu, 30 Maret 2011

Untung Surapati, sebuah roman sejarah


Editor : Sukini
Cover dan ilustrasi : Rendra
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Isi : 688 halaman kertas book paper finland 57,5 gr
Rp. 81.000
Cetakan I, 2011
Genre : sejarah
ISBN :

Sejak penghancuran benteng Bangil di tahun 1706, pihak VOC sebenarnya secara resmi telah mengeluarkan berita tentang tewasnya Untung Surapati kala itu. Mereka bahkan mengubur jenazah yang diyakini sebagai jenasah Untung Surapati dalam 2 tempat yang berbeda. Namun ternyata berita yang berkembang di masyrakat, tidak demikian adanya. Untung Surapati tetap dianggap hidup, walau dalam kewadaan terluka parah. Dari atas tandu, ia bahkan terus memimpin pasukannya yang tersisa, untuk terus bergerak melawan VOC.

Majoor Goovert Knole kemudian ditugaskan mengungkap kebenaran itu. Ia bahkan diperintahkan untuk menangkap hidup atau mati sosok yang masih diyakini masyarakat sebagai Untung Surapati. Maka selama 4 tahun ini, ia terus menyusuri jejak-jejak pasukan Untung Surapati yang terus mencoba melarikan diri. Sebagian dari mereka bisa ia kalahkan, namun sebagian yang lain terus mencoba lari.

Dan kini akhirnya, usahanya tak sia-sia. Dalam sebuah peperangan pendek di tengah sebuah hutan, pasukannya berhasil membunuh hampir semua pasukan Untung Surapati, hingga membuat pasukan yang tersisa kemudan memilih menyerah.

Ini membuat Majoor Goovert Knole merasa sangat lega. Kelelahannya seakan terbayar hari ini. Dengan gerakan yakin, namun masih menyisakan pandangan tajam kesekelilingnya, ia segera mendekati tandu yang diduga sebagai tandu milik Untung Surapati.

Tangannya kemudian segera menyibak kain yang menutup tandu itu.

Dan detik itu juga, ia terbelalak!


*****

Untung Surapati adalah sosok yang dalam literatur-literatur asing kerap digambarkan sebagai sosok licik, pencari kesempatan dalam kesempitan, dan tak tahu membalas budi. Sering mereka hanya sekedar menyebut dengan nama 'Si Begal' untuk menunjukkan sosok salah satu pahlawan nasional kita ini...
- Yudhi Herwibowo

Senin, 20 September 2010

Mata Air Air Mata Kumari


Editor Istimewa : Bandung Mawardi
Cover dan ilustrasi : Istis Comic
Ukuran : 13,5 x 20,5 cm
Isi : 140 halaman kertas book paper finland 57,5 gr
Rp. 25.000
Cetakan I, 2010
Genre : kumpulan kisah
ISBN : 978-979-1032-41-4

Dari bawah sana, beberapa orang mencoba menekuri aliran air matamu. Mungkin mereka tak puas menikmati aliran itu hanya dari hilir. Atau mereka berharap menemukan mata air yang lebih jernih, dan tak berasa asin. Dan itu sama sekali tak sulit. Hanya beberapa hari berselang, mereka telah sampai di tanah gersang kami.
Kau yang saat itu terduduk di tepi danaumu, hanya bisa terperanjat. Menatap nanar, tak percaya. Seseorang yang nampaknya pemimpin kelompok itu, maju dengan langkah tak percaya, “Ternyata di sini, pelacur ini!” semburnya dengan suara garang. Tapi seorang lainnya, yang dapat melihat tetesan air mata perempuan itu jatuh ke danau, menyentuh temannya perlahan, “Lihat,” bisiknya, “Aliran sungai yang kita cari, ternyata berasal dari air matanya!”
Orang-orang yang lain menatap tak percaya.
“Bajingan! Berarti selama ini kita minum dari air mata pelacur ini?” pemimpin kelompok itu meludah. Dan tanpa ada perintah, orang-orang itu sudah bergerak mengepung perempuan itu, “Seharusnya saat itu kau sudah kami habisi!” ujar salah satunya.
Kau mundur dengan ketakutan, “Aku tak bersalah!” suaramu terdengar di antara tangismu. Kau terjerembab.
“Cuih!” mereka meludah.
“Aku mencintainya!” kau lagi-lagi berkata, sambil terus merangkak mundur, “Dan kalian… kalian telah membunuhnya!”
“Ia pantas mati! Ialah yang telah memurukkan dewi kami ke dalam nista!” Lalu suara tawa terdengar. Dan selepas itu, hanya sepengedipan mata, tombak di salah satu tangan lelaki itu, sudah melayang tajam… menembus lehermu!

Buku Mata Air Air Mata Kumari ini tidak sekadar suguhan kata di atas lembaran kertas. Buku ini menantang peziarahan imajinasi-lokalitas dan penelisikan diri manusia melalui pelbagai peristiwa. Kefasihan menuliskan kepekaan tempat (geografi) juga mengesankan kerja kepengarangan sadar dalam lintas batas imajinasi kultural-lokalitas. Keberimanan pengarang menjelma sapaan intim untuk pembaca memasuki jagat cerita...
- Bandung Mawardi, esais

Rabu, 21 Juli 2010

Gokil Backpacker, kisah-kisah anak kost paling maksa


ukuran : 11,5 x 19 cm
isi : 192 halaman kertas koran
Rp. 25.000
Cetakan I, 2010
Genre : novel gokil
ISBN : 978-979-1032-43-8

Kalau Metro 10 mengadakan survey tentang ini, misalnya dengan pertanyaan: apakah alasannya yang paling sering dipakai para cowo untuk menolak ajakan cewe untuk nemenin ke pasar? Pasti jawaban saya ada semua di daftar 10 itu. Dari ketiduran, sakit, lupa, nemenin ortu, kursus, nengokin temen sakit, motor mogok, ngasih makan kucing, sampai salah masuk ke pasar yang lain, semua pasti ada!
-- Perempuan Berkalung Jengkol

“Novel Mas Yudhi yang judulnya Emak Ingin Naik Kuda akan segera difilmkan….”
Saya tertegun. Kali ini kalimat itu terdengar sangat jelas. Maka detik berikutnya, saya langsung berteriak histeris.
“Untuk pembelian hak cipta, dari PH-nya, penulis berhak mendapat… tet tet tet (sensor, karena menyangkut dapur penulis). Nanti akan segera kami bayar lunas ya, Mas,” ujarnya lagi. “Maksudnya lunas… dalam 5 kali pembayaran…”
– Emak Ingin Naik Kuda

“Mas Yudhi, ya?”
Saya langsung kaget. Lho, kog tau? Saya kan lagi gak pake kaos saya yang ada tulisannya 'My Name is Yudhi', atau saya juga lagi gak pegang buku saya yang berjudul 'Untung Ada Yudhi'?
Tapi bagaimana dia bisa tahu?
Saya bener-bener gak bisa mengingat. Apa dia temen saya dulu ya? Temen SMP? SMA? Atau temen… one night stand? Wekekek, gayaneee!
-- Backpacker Paling Maksa

Nah, saat itulah kejadiannya terjadi. Saat motor saya melewati sebuah minimarket, tiba-tiba sebuah carry ngebut di deket kami. Dekeeet banget, hingga mengenai spion motor saya. Saya pun seketika oleng. Karena jalanan yang gak rata, banyak gelombang-gelombangnya, motor pun tak lagi bisa dikendalikan.
Adegannya bener-bener mirip film Fast and Furious, motor saya jatuh menyisir aspal panas. Saya sendiri langsung jatuh tertimpa motor. Ah, saya nyesel banget kenapa saat itu saya gak pakai stuntmant.

-- Bakso Paling Mahal Sedunia

Nah, saya dan beberapa temen di kelompok saya langsung membuat grup ngamen. Awalnya karena gak dibekali gitar atau pun saxophone, kami terpaksa berakapela. Ada teman saya ngambil suara satu, teman yang lain suara dua, saya sendiri suara perut. Jadi gak bunyi, ;)
Saya agak lupa-lupa lagunya. Tapi kalau gak salah waktu itu lagi hitnya lagu duet Anang sama Krisdayanti. Maka kami pun menyanyi lagu itu. Ini bukanya cemen loh, tapi biar pembagian vokalnya enak, halah ngeles!

-- Gokil Backpacker

Senin, 21 Juni 2010

Di Sebalik Tabir Youtube


buku YouTube Success Story diterjemahkan ke dalam bahasa Malaysia dengan judul : DI SEBALIK TABIR YOUTUBE oleh penerbit PTS Profesional (www.pts.com.my)

Minggu, 03 Januari 2010

Gokil van Ngekos


Buku ke24 saya akhirnya terbit di penghujung tahun 2009. alhamdulillah.

ini termasuk naskah paling lama yang saya tunggu. mungkin sekitar 11 bulan dari pertama kali saya kirimkan seblulan setelah Kuch kuch Lebai Hai terbit.

Konsep awal buku ini adalah lanjutan dari Asoi Geboi Bohai. Waktu saya kirim dengan judul : Asoi Lebai Lagai, sengaja dengan judul itu supaya ada hubungan dengan 2 buku saya sebelumnya : Asoi Geboi Bohai dan Kuch kuch Lebai Hai...

Tapi ternyata penerbit menggantinya menjadi Gokil van Ngekos. Gak masalah. judul ini jadi terasa lebih menjual.

Awalnya buku ini cuma memuat 24 cerita. Namun di akhir finishing layoutnya, saya menambahkan 3 cerita : voli pantai ala eltoros, mbah citro selingkuh sama demam fitnes.

Buku ini jadi terasa sangat penuh. tebalnya 224 halaman dengan font yang lebih kecil dari biasanya. kertasnya juga memakai kertas koran, hingga harganyanya cuma 24.500. sangat terjangkau bag abg yang kalo beli pulsa gocengan doang, hehe. Intinya : membeli buku ini terasa marem banget. tebel, fontnya kecil2 dan ceritanya banyak... bisa baca 7 hari 7 malam, hehe...

*****
salah satu petikan ceritanya :

Tikungan Kematian

Seperti yang semua tahu, sebelum kost di eLtorros, saya kost di pinggir jalan Ir. Sutami. Kostnya memang gak ada namanya, tapi sumpah terkenal banget, terutama di lingkungan pemilik kost! Halah!
Ada pengalaman yang gak akan saya lupa kost disana. Bukan di dalam kostnya, tapi di depan kostnya. Tepatnya di tikungan jalan besar di depan kost saya.
Di tikungan itulah kerap terjadi banyak kecelakaan. Konon, dari cerita turun-temurun orang-orang tua di sekitar kost saya, tikungan itu dinamakan… tikungan kematian!
Tereeeeeng!
Sebuah cerita pernah terkuak beberapa tahun lalu. Saat itu pernah ada seorang reporter televisi swasta meliput soal tikungan ini. Baru aja dia bilang, “Para pemirsa, kini saya tengah berada di tikungan yang dikenal oleh masyarakat Solo sebagai tikungan kemat…”
Lalu… wuuuuuush… BRAAAAK!
Sebuah gerobak bakso langsung menabraknya dengan sukses. Kasian banget, dia sampai terkapar tak berdaya. Beberapa jerawatnya terpaksa diamputasi.
Sumpah ini beneran terjadi. Cuma sekedar contoh kecil.
Kadang saya merasa seperti salah memilih tempat kost. Namun dari situlah saya mendapat banyak pengalaman yang selalu berhubungan dengan segala macam kecelakaan. Hampir seminggu sekali terjadi kecelakaan. Bahkan sekali waktu, saat lagi ditengok keluarga dari Purwokerto, kecelakaan terjadi tepat di depan jendela kamar saya!

*****
Cerita pertama saya tentang kecelakaan adalah saat saya memakai baju favorit saya.
Waktu itu saya punya satu baju favorit. Walau hanya kaos biasa, tapi gambarnya bo! Michael Jackson!
Saya ini… apa ya sebutannya? Jacksonis? Jacksoner? Bala Jackson? Sobat Jackson? Pokoknya gitu deh. Sebelum semua orang suka Jacko setelah ia meninggal, saya bener-bener sudah suka Jacko lamaaaa benget, mungkin dari jaman saya masih ingusan. Satu persamaan saya dengan Jacko adalah , kalo megang anu, kita langsung njinjit dan mendesah atau berteriak, ‘yiiiiha!’
Sebenernya saya punya 3 kaos dengan gambar Michael Jackson. Tapi yang paling saya suka, ya yang ini. Abis ini yang paling mahal. Saya belinya di Jogja. Kata yang jual ini buatan luar, luar Jogja maksudnya, kalau gak Bandung berarti Jakarta.
Kaos putih ini bergambar Michael Jackson di tengah konsernya. Ia lagi berdiri jinjit di mana satu tangannya memegang topi yang diturunin sedikit, lalu tangan satunya lagi memegang anunya. Gambar ini bener-bener mengandung filosofi yang dalam buat saya. Topi yang sedikit menunduk adalah simbol kalau Michael Jackson menghormati para penggemarnya. Kaki yang berdiri menjinjit adalah simbol beratnya beban hidup Michael Jackson selama ini. Dan tangan yang sedang memegang anunya adalah symbol untuk dirinya yang selalu menjaga nafsu syahwatnya! Buseeet, dalem banget!
Saya beruntung punya kaos dengan nilai filosofi begitu dalem. Apalagi yang bikin lebih istimewa, ada manik-maniknya tersebar di beberapa bagian. Jadi bikin berkilauan kalau dipakai.
Sumprit, kalau saya jalan dengan kaos itu, kesannya saya ada di atas panggung. Apalagi kalau kedapatan ada yang lagi nyetel lagunya Michael Jackson….

la la la la la…. black or white
li li li li li… black or white…

Tanpa sadar saya bakalan melakukan moonwalker. Kereeen!
Tapi sayangnya, kesukaan saya ini membuat temen-temen saya sering dihinggapi perasaan sirik. Katanya kaos saya itu mirip banget baju dangdutnya Camelia Malik…
Sotoy, gak tau orang seneng!

*****

Kamis, 26 November 2009

Untung Ada Yudhi


Ini bukuku ke23

buku komediku ke3 (harusnya ke4 ding)


begitu ngeliat covernya saya langsung wakakakak sendiri...
dulu buku ini dijudulkan oleh penerbitnya Bentang : 'BUDIO NO, BUDI ANDUK YES'. dan direncanakan akan terbit sebelum pemilu. tapi ternyata gak ngejer waktunya. makanya terus buku ini mengendap lamaaaaaa juga. baru kemudian dapet ide kayak gini! hehehe sebagai pengagum budi anduk saya merasa tersanjung, wekekek...


*****


Kambing Betina


Sebelumnya perlu saya klarifikasi kalau cerita ini sumpah mateng, bukannya mau mengikuti kesuksesan kambing jantan. Ini jelas berbeda. Karena ini merupakan cerita yang bener-bener tentang kambing!
Saya menuliskan cerita ini karena belakangan ini saya sering makan sate kambing. Minimal seminggu 2 kali, atau kalau lagi sadar keresterol, yaaa, seminggu sekali saja.
Sekarang ini saya punya tempat langganan sate yang asik punya. Kalau saya kesana, saya cukup datang saja, gak perlu mesen seperti biasanya ; “Satenya satu porsi, Mas, 10 tusuk. Gak perlu pakai ati, pilihin gajihnya yang banyak, entar kecapnya juga yang banyak ya, gak usah pake tomat sama bawang, tapi kolnya dibanyakin dan ditaruh dipinggir piring aja, jangan dicampur sama satenya, bakarannya yang mateng ya, Mas, trus nasinya satu setengah yang anget! Minumnya es teh, tapi kalau bisa yang mereknya yang Cap Gardu, karena wangi sama rasanya wuenak tenan… ”
Yap, saya gak perlu sampai ngomong sepanjang itu. Tinggal masuk, duduk di kursi, dan langsung deh dibuatin.
Sip banget, pelanggan sejati ceritanya. Kalau dalam istilah Solo : Wis Lengganan, hehe!
Akhir-akhir ini memang kambing lagi banyak disuka. Itu mungkin karena sudah dibuat lagunya oleh grup musik Bruket, yang lagi naik daun. Inget kan lagunya?

hanya kambing yang bisa
membuuuuat aku jadi tergila-gila
membuuuuat aku jatuh ciiiinta
karena tak ada yang lain selainmu…

Setiap makan sate kambing saya sering mengkilas betapa menderitanya saya dulu karena jaraaaang banget makan sate kambing. Saya pol makannya ayam… lho ayam kan mahal? Bentar dulu, ayamnya ayam tiren, hikz…
Hehe, lebaiiii!
Maka itulah karena sekarang sering makan sate kambing, saya bisa nandain sate yang enak dan sate yang enak banget (sate kambing memang cuma punya 2 rasa). Dan kesimpulan saya : sate yang enak itu bukanlah sate yang dibuat dari kambing yang masih muda, tapi kambing yang betina. Ini mitos yang bener…. bener-bener jayus maksudnya.
Tapi walau jayus analisanya masuk akal kog. Gini : konon keringat kambing betina lebih sedikit dari kambing jantan. Makanya daginya gak apek. Lebih terasa… harum malah, hehe… rexona banget!
Cerita soal kambing saya punya pengalaman seru bareng Ibun dan Tono.
Dua anak ini dulunya walau culun, tapi memang kemaki luar bisa, hehe. Gak beda jauh dari saya, hehe. Sekedar deskripsi bagi mereka : Tono itu temen satu angkatan saya di arsitek, orangnya kurus, tinggi, dan kalau ngentut selalu ngaku. Sedang kalau Ibun, dia adalah temennya satu kost Tono. Anaknya pendiem, baik dan kalau ngentut pasti nuduh Tono, hehe…


*****

Senin, 07 September 2009

Pandaya Sriwijaya


Pemilihan Pandaya Sriwijaya seharusnya telah usai. Namun, kehadiran seorang gadis bercadar dengan rajah kupu-kupu di pipinya membuat keputusan Dapunta Cahyadawasuna berubah. Gadis itu tak kalah hebatnya dengan pandaya terpilih, seorang pemuda dengan tiga pedang. Pertempuran keduanya, dengan jurus-jurus kejutan yang begitu dahsyat, seakan tak akan pernah berakhir. Berbeda dari tradisi sebelumnya, Sriwijaya kini memiliki dua pandaya. Sriwijaya, di tengah ancaman kerajaan tetangga dan kedatuan-kedatuan yang tengah berkhianat, masih menggenggam ambisi menguasai Bhumi Jawa. Dibutuhkan pendekar-pendekar kuat nan digdaya untuk mencapainya, selain juga armada-armada yang tangguh. Namun, upaya mempertahankan kebesaran Sriwijaya bukan tanpa biaya. Ada luka, tangis, amarah, dan tak kalah ketinggalan, dendam. Dan, tak ada yang mengira, sebuah dendam bisa memorakmorandakan kesatuan terhebat di penjuru nusantara pada masa itu. Berhasilkah para pandaya Sriwijaya mempertahankan kembali kebesaran yang selalu dibanggakan para leluhur? Dalam 12 purnama, Balaputradewa mengucurkan darah 25.000 nyawa. Semua demi kebesaran sebuah nama: Sriwijaya.
*****
sampai saat ini masih menjadi novel terpanjang saya. konon tebalnya 470 halaman. walau ceritanya fiksi, namun semua data tentang sriwijaya termuat disini. saya harap gak terlalu mengecewakan. karena saya suka ceritanya...

Jumat, 14 Agustus 2009

Futatsu No Nagareboshi - Kisah 2 Bintang Jatuh


Sungguh, pernah kuceritakan pada kalian, sebuah kisah tentang sosok bermata iblis. Sosok yang selalu menaburkan ketakutan, kengerian, bahkan kematian, bagi siapapun yang melihatnya… Sosok yang cara matinya sungguh yang tak biasa… Sosok yang kesetiaannya tak pernah bisa terukur…
Dan ini adalah kisah, setelah kematian dirinya…

****

1
Anak dari Sang Iblis


Jauh dari Kastil Torigawa di Gifu, perempuan setengah baya itu, Sayaka Aoki, berjalan cepat-cepat. Ia menyincing kimono-nya ke atas, untuk mempermudah langkahnya. Gerakannya nyata sekali nampak terburu-buru dan sedikit berhati-hati. Matanya tak pernah lepas berpaling ke segala penjuru, mengamati sekitarnya. Sementara dibelakangnya, anaknya, seorang gadis 16 tahun, berjalan mengikuti langkahnya dengan kepala tertunduk.
“Cepatlah, Kana!” ujarnya dengan suara ditekan.
Gadis itu sama sekali tak menyahut. Ia hanya melebarkan langkahnya agar dapat terus berada tak jauh dari ibunya.
Saat itu langit memang masih nampak gelap. Matahari masih akan sangat lama untuk mulai menampakkan sinarnya. Kabut tebal masih menyelimuti seluruh setapak, membuat pandangan mata belum dapat menembus jauh ke depan.
Maka itulah sejak tadi perempuan itu nampak berjalan berhati-hati. Ia bisa saja terjatuh dalam kubangan yang banyak tersebar di sepanjang setapak. Namun sebenarnya, bukan sekedar untuk itu kehati-hatiannya. Yang lebih dikwatirkannya adalah ada orang-orang yang tak diharapkannya melihat… pelariannya ini!
Ya, pelarian! Ia terpaksa menggunakan kata itu, karena kini ia memang tengah mencoba meninggalkan kediamannya tanpa diketahui oleh siapa pun. Beberapa saat yang lalu, seorang prajurit suaminya, yang telah begitu lama dikenalnya, datang ke rumahnya saat puncak malam baru saja bergeser.
“Nyonya besar,” ia membungkuk dalam-dalam, “Tuan Sano Sakai telah dibunuh.”
Dan ia hanya bisa tertegun mendengar kalimat itu. Kejadian ini hanya berselang satu hari sejak pihak Keluarga Torigawa datang padanya untuk mengabarkan kematian suaminya, Shoja, karena luka parah saat duel.
Awalnya ia sama sekali tak percaya dengan berita itu. Suaminya adalah petarung yang tangguh. Sepanjang ia mengenalnya, tak pernah ia melihat suaminya terluka. Tapi ekspresi pembawa kabar itu kemudian harus membuatnya percaya.
Ya, saat itu ia memang harus percaya dan terluka.
Dan kini, hanya berselang sehari kemudian, saat hatinya masih diliputi duka yang dalam, kabar kematian Sano Sakai, salah seorang kaki tangan suaminya yang paling dipercaya, kembali terdengar olehnya. Sejak lama, ia mengenal Sano Sakai dengan baik. Dia merupakan satu-satunya anak buah suaminya yang paling kerap datang kerumahnya. Bahkan tak jarang ia melihat suaminya mengajari pemuda itu satu atau dua gerakan pertarungan.
Mengingat itu, satu pikiran mau tak mau segera saja berkelebat di otaknya.
Tentunya bila pemuda itu sampai juga di bunuh, tentunya telah terjadi pergeseran kekuasaan di kastil keluarga Torigawa yang begitu drastis.
“Nyonya besar,” suara prajurit itu menyadarkan kembali dari pikirannya. “Nampaknya Nyonya Besar…. harus segera pergi dari rumah ini, sekarang juga!”
Dan itulah yang kemudian dilakukan Sayaka Aoki. Ia tak bisa mempertimbangkan lebih lama lagi. Segera saja ia membangunkan putrinya, dan membawa beberapa helai pakaian dan uang yang tak seberapa.
Untungnya kabut sepertinya membantu pelarian diri keduanya. Beberapa kali, ia mencoba menoleh ke belakang. Bukan sekedar menunggu putrinya yang berjalan dibelakangnya, tapi juga untuk melihat rumah mereka yang semakin lama mulai tertelan kabut…
Sungguh, ini begitu menyesakkan. Rumah itu telah begitu lama menaungi dirinya suaminya juga Kana. Semua kenangannya ada disitu, dan kini ia harus ditinggalkan begitu saja…
Setitik air matanya jatuh. Namun ia buru-buru menyapunya dengan punggung tangannya. Saat itulah, dari tempatnya berdiri, sudah dilihatnya samar-samar sebuah kereta kuda di ujung setapak.
Sayaka Aoki bernapas lega. Segera ia menarik tangan putrinya, “Cepatlah!” ujarnya.
Kemudian kedua perempuan itu segera naik ke dalam kereta kuda itu.
Prajurit yang tadi mengabari tentang kematian Sano Ryu sudha nampak menunggunya.
“Kita pergi sekarang, Nyonya Besar?” tanyanya sambil menoleh.
Sayaka Aoki hanya mengangguk pelan.
Dan bunyi tapak kuda kemudian mengisi keheningan.
Di dalam kereta, Sayaka Aoki segera melempar pandangannya ke belakang, mencoba melihat lagi rumah miliknya. Tapi ia hanya menemukan setapak berkabut yang semakin terasa menebal.
Matanya kembali berkaca-kaca. Ia ingin kembali menangis, namun melihat putrinya yang juga tengah menatap ke arah yang sama, ia menguatkan hatinya.
Dibiarkannya kereta semakin meninggalkan desa mereka dalam keheningan. Sedkit, walau tadi ia kecewa terhadap kabut yang sudah menghalangi pandangannya pada rumahnya, namun di sisi yang lain, ia tetap merasa berterimakasih karena kabut karena telah membantunya dalam pelarian ini. Ini membuatnya merasa tenang.
Namun di tengah perasaan seperti itu, baru disadarinya kalau putrinya yang sejak tadi duduk dihadapannya, masih saja terus memunggungi dirinya untuk menatap ke arah belakang kereta.
Sayaka Aoki sebenarnya ingin mencoba berkata sesuatu, membuka percakapan, namun ia segera mengurungkan niatnya ketika tanpa sengaja dari arah tempatnya duduk, sekilas dilihatnya sesuatu yang aneh di mata Kana.
“Kana,” segera ia memegang pipi anaknya. Dengan sedikit memaksa, dibawanya wajah anaknya itu tepat didepannya.
“Kenapa… dengan matamu?” ia memandang tak percaya pada kedua mata anaknya yang kini nampak sangat memerah.
Namun ia tak bisa mengamati lebih lama. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Kana sudah menepis pegangan tangannya, dan kembali membalikkan tubuhnya ke belakang.
Sayaka Aoki hanya bisa membiarkannya dengan perasaan tak tentu. Sungguh, ini… begitu menyakitkan hatinya. Ia tahu sejak berita kematian suaminya datang, Kana juga mendengarnya bersamanya. Saat itu, ia sama sekali tak menahan kesedihannya. Ia terpuruk dan menangis. Namun tidak demikian dengan Kana. Walau matanya nampak jelas berkaca, tapi ia tak menangis, setidaknya… ia berusaha keras untuk tak menangis. Ia hanya beranjak meninggalkan ruangan dan menuju kamarnya.
Sayaka Aoki tak tahu, apakah disitu, di dalam keheningan kamarnya sendiri, anaknya itu melepas tangisnya? Ia tahu sekali seberapa dekat hubungan anaknya itu dengan suaminya. Ia yakin berita ini pastilah begitu dalam melukai hatinya, hingga ia yakin anaknya itu pastilah menangis.
Jadi apa ini yang kemudian membuat matanya menjadi semerah itu?
Sayaka Aoki hanya bisa menggeleng tak yakin.
Namun sungguh, mata yang memerah itu, begitu mengingatkannya pada mata suaminya…

*****

Ini adalah lanjutan novel Samurai Cahaya. Kisah lanjutan 2 bintang jatuh yang tersisa, Sano Ryu dan Yokushimaru Toshi.
Cukup lama saya membuat novel ini, karena sempat terhenti membuat novel lain. Cover novel ini dibuat oleh Mas Yogi dan editannya oleh dilakukan Mas Jody. Semoga tak mengecewakan...